Perceraian merupakan hal yang tidak diingikan bagi kehidupan berumah tangga. Dalam sebuah perceraian, apapun yang menjadi alasannya anak  adalah pihak yang paling disayangkan untuk dikorbankan, padahal anak tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan kedua orang tuannya. Anak secara langsung maupun tidak langsung mengalami beberapa permasalahan, salah satunya adalah hak asuh bagi dirinya.

Agama Islam adalah agama yang membolehkan perceraian, namun juga sangat menyayangkan sebab dikatakan bahwa “Cerai adalah perkara yang dibolehkan, namun dibenci Allah”. Sementara itu tanggung jawab menafkahi anak, baik dalam rumah tangga, maupun sudah cerai, adalah tanggung jawab sang ayah.

Hak asuh anak terletak pada sang ayah dan pengadilan memiliki hak untuk memaksa si ayah mencukupi kebutuhan si anak, jika diperlukan. Jumlah nominalnya dapat ditentukan dan harus disesuaikan dengan pendapatan sang ayah.

Dalam al Qur’an disarankan agar pasangan yang berpisah tersebut bernegosiasi dengan adil dan terbuka mengenai masa depan si anak. Sementara untuk masalah tinggal, Islam menyarankan agar si anak diasuh oleh seorang Muslim yang imannya kuat, sehat secara jiwa dan raga.

Aturan Islam lebih fleksibel untuk masalah kepada si ayah atau ibu anak itu dirawat, tergantung pada kondisi keduanya dan peraturan daerah setempat. Biasanya disaranakan agar anak-anak di bawah usia tertentu diasuh oleh sang ibu, sementara yang lebih tua pada sang ayah. Untuk anak perempuan, biasanya hak asuh akan jatuh ke ibu.

Bagaimanapun juga, aturan yang digarisbawahi oleh Islam adalah si anak terpenuhi kebutuhannya secara fisik dan emosional.