Perasaan “Gelisah” Menjelang Perceraian

Ketika kehidupan rumah tangga ada pada situasi genting dititik nadir, maka suasana emosional, marah, benci, jengkel, bingung, galau pasti menghinggapi perasaan pasangan suami-isteri.

Tidak sedikit keputusan untuk bercerai diambil dalam keadaan marah, benci, cemburu dan masih meninggalkan rasa sayang kepada isteri atau suami.

Dalam situasi seperti ini keputusan untuk bercerai membutuhkan mental dan dukungan keluarga dan para sahabat.

Perceraian akan menjadi bulat jika alasannya karena adanya Pria Idaman Lain ( PIL ) atau karena adanya Wanita Idaman Lain ( WIL ).

Namun bagaimanapun secara umum perasaan galau menghadapi masa-masa perceraian selalu ada menghantui mereka yang akan bercerai.

Khusus bagi mereka pasangan rumah tangga yang beragama Islam di bawah ini ada beberapa tips atau cara mengatasi kegalauan yang mungkin sangat membantu saudara yaitu,

1.      Sabar

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi. Ujian yang Tuhan berikan kepada kita itu sebenarnya untuk menguji keimanan kita. Jika kita sabar melewai cobaan dan ujian akan meningkatlah level iman kita. Bukankan Allah itu menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika ujian itu datang padanya, berarti Allah yakin kita bisa melewatinya. Allah saja yakin, masa kita Ngga sih…

2.      Adukanlah semua itu kepada Allah

Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

Ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita. Kalo kita curhat sama teman, mukin malah akan membuka aib kita sendiri malah kan????…..

Ok…..

Mukin di antara kalian ada yang lebih milih curhat ma temen. Syukur temen kita bisa bisa dipercaya dan gak menyebar luaskan masalah kita, lha kalo temen kita ember alias gak bisa jaga rahasia, yang ada malah menambah masalah karna aib kita di umbar-umbar. Udah deh…… curhaynta sama Sang Pencipta aja.

Ya……

Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

3.      Positive thinking

Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu kita untuk mengatasi rasa galau yang sedang kita rasa. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada dalam diri kita menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang maslah yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik dan jalan keluar yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Akan selalu ada jalan jika kita percaya kalo Allah swt akan menoong kita. Intinya, kita haarus selalu berfikir positif sama Allah, jangan pernah suudzhon sama Sang pencipta. Ini sejalan dengan firman Allah swta dalam ayat berikut;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

Ini janji Allah di dalam Al-Qur’an. Akan selallu ada kemudahan di setiap kesulitan. Masih ragu juga sama janji Allah.??????…

4.      Dzikrullah (Mengingat Allah)

Naaaaahhh…

Ini yang paling penting. Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

Satu hal yang harus diingat adalah, untuk dapat selalu mengingat Allah swt dan berhasil menghapus atau menangkal rasa gelisah, dzikir tidak hanya dilakukan sebatas ucapan lisan dan atau hati saja. Dzikir kepada Allah swt merupakan rangkaian aktivitas yang melibatkan segenap hati, lisan, dan juga perbuatan. Tanpa bersatunya ketiga aspek tersebut, maka sulit pula atau bahkan tidak mungkin bagi hati kita untuk bersatu dengan Allah swt.

5.      Sholat

Sholat yang merupakan ibadah paling utama bagi umat muslim juga merupakan salah satu sarana penangkal dan penawar berbagai macam penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Jelas saja, sholat merupakan ibadah yang totalitas hanya mengingat kepada Allah swt, yang secara total juga hanya diisi dengan kalimat-kalimat dzikrullah, ayat-ayat Allah swt.

Allah berfirman :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS.Az Zumar : 23)

Sholat merupakan aktivitas komunikasi langsung dengan Allah swt, Zat yang menggenggam dan menguasai segala hati, yang menciptakan penyakit dan yang menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Jika seseorang telah terhubung dan berkomunikasi dengan Allah swt secara langsung dalam sholat yang khusyuk, maka mustahil baginya terserang penyakit gelisah. Karena gelisah menyerang hati, dan Allah swt-lah yang menggenggam dan menguasai segala hati.

Bersabar, mengadu kepada Allah, berpikir positif, Dzikrullah, dan sholat adalah solusi segala persoalan, termasuk masalah penyakit hati termasuk rasa gelisa, resah, gundah, gulana, galau ato papun itu.

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita.

 

 

Faktor Lain Penyebab Terjadinya Perceraian

Jika lewat waktu 5 tahun berjalan rumah tangga anda dapat dipertahankan, maka itu adalah permulaan yang baik untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga anda.

Umur perkawinan di bawah 5 (lima) tahun adalah sangat rentan dengan cobaan dan ancaman perceraian.

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain ;

1. Apakah perkawinan anda terjadi karena dijodohkan orang tua ? ;

2. Apakah perkawinan anda terjadi karena terlanjur mempertanggungjawabkan wanita yang anda hamili ? ;

3. Apakah rumah tangga anda terbangun sebagai bentuk konpensasi atau pelarian belaka ? ;

4. Apakah rumah tangga anda terjadi karena anda sebelumnya terhutang budi baik oleh pihak isteri anda atau pihak suami anda ?

Jika ke-4 faktor di atas sebagai sebab terjadinya rumah tangga anda, maka kemungkinan besar usia rumah tangga anda tidak akan bertahan lama.

Demikian sekilas info untuk dijadikan bahan renungan dan tindakan terbaik untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga anda.

Semoga bermanfaat.

Momok Perceraian Bagi Sang Isteri & Cara Cepat Punya Anak

Saat masa pacaran banyak pasangan usia subur atau mereka yang masih jomblo memandang bahagianya hidup bersama dengan sang kekasih yang dicintai. Mereka memandang bahwa hidup selalu dekat dengan pujaan hati setiap harinya merupakan kebahagiaan hidup yang memberikan banyak gairah dan semangat.

Dalam hidup berumah tangga akan mengalami masa cobaan dalam waktu 5 tahun, dan angka perceraian terbanyak yang terjadi ada pada rumah tangga yang belum berusia 5 tahun, apalagi pada masa itu belum juga dikaruniai seorang anak juapun. Masalah tidak punya anak sering dijadikan alasan utama bagi seorang suami untuk menceraikan isterinya, dan ini akan menjadi momok tersendiri bagi seorang isteri.

Dari Berbagai Sumber Yang Layak Dipercaya Di sini Ada beberapa Cara Agar Cepat Hamil Yang Mungkin Dapat Dicoba, sbb ;

1.Posisi seks: Tidak semua posisi bercinta bisa memberi peluang yang sama untuk terjadinya pembuahan. Posisi yang paling memungkinkan agar sperma dapat berenang melintasi rongga rahim menuju saluran tuba yang ada di seberang rahim adalah posisi misionaris.(suami diatas)

2.Berbaring dulu: “Sebuah saran yang bagus untuk berbaring selama 10 – 15 menit setelah berhubungan seks, tapi Anda tidak perlu mengangkat kedua kaki,” kata James Goldfarb, MD, Direktur Klinik Kesuburan Cleveland,

3.Nikmati seks:Mulailah menikmati hubungan seks tidak sebagai usaha untuk pembuahan tapi juga karena Anda berdua menikmati dan nyaman melakukannya.

4.Frekwensi berhubungan seks: idealnya adalah sekitar 2-3 kali seminggu

5.Catat masa subur:Bagi Anda yang siklus haidnya teratur akan lebih mudah menghitung masa suburnya. pada wanita dengan siklus haid rutin 28 hari, Hitunglah kapan hari ke-12 dan kapan hari ke-16. Dimulai dari hari pertama haid ya

6.Ukur suhu basal tubuh: Suhu tubuh yang normal berkisar antara 35,5 – 36 derajat celcius. Di masa ovulasi, suhu tubuh akan turun lalu naik menjadi 37 – 38 derajat.

7.Tes kesuburan: Sekarang sudah banyak kok, alat penghitung masa subur yang dijual di pasaran. Alat ini akan mengukur kadar hormon LH pada urin yang biasanya terjadi sebelum ovulasi. Waku yang paling tepat untuk melakukan tes kesuburan adalah antara pukul 11.00 – 15.00 WIB atau 17.00 – 22.00 WIB.

8.Gaya hidup Sehat: Banyak penelitian membuktikan bahwa merokok dapat mengurangi kesuburan. Kebiasaan merokok disinyalir membuat saluran telur tersumbat sehingga perjalanan sperma bertemu sel telur terhambat, Gaya hidup lain yang patut Anda hindari adalah pemakaian obat-obatan secara sembarangan serta minuman beralkohol secara berlebihan.

9.Olahraga: jika Anda ingin hamil, frekwensi berolahraga ideal adalah misalnya, berjalan kaki tiga kali seminggu selama 30 menit.

10.Jaga berat badan: miliki berat badan ideal sesuai dengan body mass index (BMI), sekitar 18.5 – 24.9. Ketahui BMI Anda dengan cara bagi berat tubuh dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Contohnya: Berat badan 50 kg, tinggi badan 160 cm. BMI Anda adalah 50/1,62 = 19,5 kg/m2 dan itu termasuk normal.

11. Cek Lendir: Jika terdapat cervical mucus di vagina Anda, itu pertanda Anda berada dalam puncak masa subur dan menjadi saat yang paling tepat untuk melakukan hubungan seks.

12.Jauhi pelicin: pelicin mengandung komponen-komponen yang bisa merusak sperma sehingga tidak dianjurkan untuk pasangan yang ingin memiliki anak.

13.Rileks dan jalani: cobalah untuk mengurangi stres dengan mencoba pasrah dan ikhlas. . Apa pun yang bisa mengurangi stres akan meningkatkan kesempatan Anda untuk hamil.

14. Segera konsultasi ke dokter! Jika kita sudah mencoba saran-saran di atas namun setelah 1 – 2 tahun si buah hati belum juga hadir, saatnya segera konsultasi ke dokter ya.

15. Saat Ejakulasi usahakan posisi isteri di bawah dengan kedua kaki diangkat ke atas selama 15 detik, agar sperma diberi kesempat mencari alur rahim untuk pembuahan ;

Demikian sekedar yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi yang belum punya anak.

 

5 Faktor Utama Pemicu Terjadinya Perceraian

Tingginya angka perceraian yang terjadi di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini sangat mengesankan bahwa lembaga perkawinan begitu rapuh dan ringkih. Sulit dibayangkan begitu mudahnya pasangan usia subur menjalin asmara dan tanpa harus menunggu lama mereka langsung masuk kejenjang pernikahan, baik secara Islan maupun yang Non Islam.

Kisah cinta yang instan telah begitu membudaya bagi remaja pasangan usia subur di Indonesia, dan mudahnya mereka jatuh cinta dan merencanakan pernikahannya tanpa ada persiapan yang matang secara  lahir-batin boleh jadi penyebab utama patah ditengahnya kehidupan rumah-tangga yang telah dibangun.

Lalu apa saja faktor penyebab timbul nya perceraian?

dibawah ini ada faktor yang sering kali terjadi:

1. Kesetian dan Kepercayaan : Didalam hal ini yang sering kali menjadi pasangan rumah tangga bercerai, dalam hal ini baik pria ataupun wanita sering kali mengabaikan peranan kesetiaan dan kepercayaan yang diberikan pada tiap pasangan, hingga timbul sebuah perselingkuhan.

2. Seks : Didalam melakukan hubungan seks dengan pasangan kerap kali pasangan mengalami tidak puas dalam bersetubuh dengan pasangannya, sehingga menimbulkan kejenuhan tiap melakukan hal tersebut, dan tentunya anda harus mensiasati bagaimana pasangan anda mendapatkan kepuasan setiap melakukan hubungan seks.

3 Ekonomi : Tingkat kebutuhan ekonomi di jaman sekarang ini memaksa kedua pasangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga seringkali perbedaan dalam pendapatan atau gaji membuat tiap pasangan berselisih, terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan.

4. Pernikahan Tidak Dilandasi rasa Cinta : Untuk kasus yang satu ini biasanya terjadi karna faktor tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang sudah ditentukan, sehingga setelah menjalani bahtera rumah tangga sering kali pasangan tersebut tidak mengalami kecocokan.

5. Salah satunya atau kedua-duanya tergoda adanya Pria Idaman Lain (PIL) atau Wanita Idaman Lain (WIL), sehingga secara psikologis dan prilaku mengundang kejanggalan dan kecurigaan dari pasangan suami isteri ;

Alasan Suami Menceraikan Isteri

“Istriku berselingkuh” merupakan salah satu alasan utama pria mengajukan perceraian. Namun banyak juga istri setia yang digugat cerai oleh sang suami. Apa penyebabnya? Kami menanyakan kepada sejumlah pakar hubungan asmara mengenai alasan-alasan yang menyebabkan suami mengajukan perceraian – jawaban mereka mengejutkan dan mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk membina rumah tangga yang awet.

1. Anda berhenti merawat diri.

Pria memahami bahwa tubuh perempuan akan berubah seiring waktu. Namun ada perbedaan antara “gemukan” dan “jadi gembrot”. Lalu apakah Anda masih ingat kapan terakhir kali waxing atau mencukur bulu yang tak diinginkan?  “Jika Anda tak mau repot-repot tampil cantik bagi suami, ia akan bertanya-tanya apakah Anda masih peduli dengan dirinya,” ujar Sherry Amantenstein, pakar terapi pernikahan dari New York. Tidakkah Anda mengalami hal yang sama jika suami Anda tidak peduli lagi dengan penampilannya? Jadi mulai sekarang buang jauh-jauh celana dalam nenek-nenek, atasi rambut yang lepek berminyak dan hal-hal lainnya yang membuat penampilan Anda tidak menarik — dengan demikian Anda berdua akan merasa jauh lebih baik.

2. Anda selalu mengatakan tidak.
Jika Anda selalu berbicara dengan nada negatif dan merengek seperti anak kecil, “Anda menjadi perusak suasana,” ujar Amatenstein. “Hal ini membuat Anda bukan lagi seseorang yang ia dapat ajak bersenang-senang atau diinginkan keberadaannya.” Meskipun Anda mengatakan hal negatif bagi kebaikan suami Anda, cobalah untuk berkompromi: daripada ngambek karena suami ingin beli motor besar, mungkin Anda bisa mengizinkan jika dia berjanji akan selalu memakai helm, misalnya. Dengarkan keinginan suami Anda dan pernikahan Anda kemungkinan akan jauh dari perceraian.

3. Anda lebih banyak mengomel daripada merawat suami.
“Jika Anda selalu mengomeli suami karena kesalahan kecil atau hal-hal sepele, ia akan merasa jengkel dan pada akhirnya menutup diri,” ujar Corri Fetman, pengacara perceraian asal Chicago. “Jika hal ini sampai terjadi, ia akan kehilangan semangat dan upaya untuk menjaga pernikahan tetap harmonis.” Bicarakan apa yang membuat Anda kesal sehingga suami tidak mengulanginya lagi. Dan jika ia berhasil, jangan lupa untuk memberi “imbalan” berupa memanjakannya secara ekstra.

4. Ia merasa tidak dihormati.
Jangan ikuti tren lelucon yang menghina suami meski itu untuk lucu-lucuan, ujar pakar terapi pernikahan Rosalind Sedacca. Hindari lelucon di Facebook mengenai suami Anda yang seorang penggemar bola basket namun menggiring bola saja tidak bisa – dan juga jangan mengejeknya di depan para sahabatnya. “Suami Anda akan merasa diremehkan,” jelas Sedacca. “Kepercayaan diri suami dan istri adalah pondasi setiap pernikahan,” tambahnya. Pada akhirnya, harga diri suami Anda rusak dan ia akan kehilangan keintimannya dengan Anda. “Sementara mungkin ada perempuan lain yang bersedia memperlakukan suami Anda dengan kekaguman,” ujar Sedacca. Anda tahu akibatnya? Sama sekali tidak bagus!

5. Suami Anda tidak memiliki mentor pernikahan.
Jika teman-teman suami Anda hobi datang ke tempat hiburan dan spa khusus dewasa meski sudah menikah, ia perlu mencari teman-teman baru yang bisa dijadikan panutan, ujar penasihat pernikahan Don Nations. “Jika pria memiliki teman dengan pernikahan yang solid yang dapat ia ajak bicara, jadi penampung curhat, dan menawarkan nasihat, ia memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengajukan perceraian,” jelasnya. Menjalin persahabatan dengan pasangan suami istri yang bahagia mungkin dapat menginspirasi Anda dan pasangan.

6. Anda bukan partner suami dalam hal keuangan.
Jika Anda berdua tidak memiliki kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan dengan anggaran rumah tangga, hal ini dapat menyebabkan krisis pernikahan, ujar Amatenstein, “ini karena berbagai perilaku yang dipicu oleh hal tersebut,  seperti persaingan memperoleh kendali atas rumah tangga dan merahasiakan pembelian barang mahal.” Jalan keluarnya? Duduklah bersama dengan pasangan dan buat daftar impian yang Anda setujui bersama, baik itu rencana untuk pensiun dini, biaya sekolah anak, atau tujuan wisata idaman, sehingga Anda berusaha mencapai tujuan yang sama. Jika Anda bedua tidak dapat mencapai kata sepakat, silakan berkonsultasi dengan penasihat keuangan.

7. Anda tidak memberikan kesempatan kepada suami untuk merasa seperti “Superman”.
“Pria akan tetap mempertahankan pernikahannya selama mereka merasa masih menjadi pelindung bagi pasangannya,” ujar Tracy Thomas, Ph.D, pakar psikologi sekaligus konsultan rumah tangga. Berikanlah pujian bagi suami jika ada kesempatan. Berikan pujian yang spesifik, katakan kepadanya, “Waktu kamu meneleponku tadi siang, aku senang sekali mendengar suaramu,” atau berkata, “Terima kasih, ya. Kamu memang serba bisa,” setelah ia membetulkan genteng bocor. Memberikan pujian bagi setiap tindakan suami Anda yang heroik dapat membantu Anda melalui momen-momen sulit dalam pernikahan.

8. Anda tidak sepakat mengenai cara membesarkan anak.
Mungkin suami Anda berhati lembut yang memanjakan anak-anak  dengan membelikan apa yang mereka inginkan, sementara Anda merasa khawatir mereka tidak akan pernah belajar menghargai uang. Suami mungkin merasa anak-anak melakukan aktivitasnya harus sesuai dengan jadwal, sementara Anda lebih menyukai anak-anak dibiarkan bebas. “Anda harus berupaya sebisa mungkin untuk mencapai kesepakatan, sehingga Anda tidak saling membenci satu sama lain,” ujar Amatenstein. Buat peraturan bersama mengenai jam tidur anak, pekerjaan rumah dan hukuman bagi pelanggaran yang dilakukan anak-anak Anda. Dan sebelum Anda menentang pandangan suami, coba ingat kembali latar belakang ia berasal (mungkin ia dibesarkan di lingkungan yang tidak aman, sehingga ia terpaksa harus berada di dalam rumah setelah gelap supaya tetap aman). Sesekali turutilah perkataannya, asalkan cara tersebut tidak menyakiti siapa pun – “ia akan merasa opini dan perasaannya berarti bagi Anda,” ujar Amatenstein. Dan itu merupakan hal yang amat penting bagi setiap hubungan asmara.

9. Ia merasa diabaikan.
Kehidupan membawa Anda ke arah yang berbeda-beda. Namun “memfokuskan semua waktu dan energi Anda untuk anak dan karier, dan sama sekali bukan untuk suami, dapat mengebiri dirinya dan membuatnya merasa seperti ‘barang bekas’,” ujar Fetman. Luangkanlah waktu sejenak setiap harinya untuk mengobrol, mendengarkannya, berbicara dan tertawa, hanya bersamanya, tanpa anak-anak. Kapan waktu yang terbaik untuk melakukan hal itu? “Ketika suami Anda punya kemungkinan lebih terbuka, baik ketika sedang bersantai di sofa maupun saat sedang di tempat tidur sebelum terlelap,” ujar Fetman. “Cobalah untuk mengobrol tentang beragam hal yang tidak ada hubungannya dengan anak-anak, jadwal, atau apa pun yang membuat stres. Buat menjadi menyenangkan.”

10. Drama keluarga dengan anak tiri.
Jika suami Anda sudah memiliki anak dari istri terdahulu dan anak tersebut tidak menyukai Anda, pernikahan Anda bisa jadi dalam bahaya. “Suami Anda mungkin merasa harus melindungi anaknya – lagi pula, suami istri mungkin dapat menjadi mantan namun anak selamanya tetap anak,” ujar Amatenstein. Jelaskan kepada suami  bahwa Anda ingin menjadi bagian dari hidup anak tersebut, dan apa pun yang terjadi, Anda tahu suami mencintai anaknya dan perlu menjalin hubungan dengannya. Jangan coba untuk menggantikan posisi ibu kandungnya – dan jangan pernah menjelek-jelekkan ibunya di hadapannya. Minta suami untuk membantu membuat citra Anda yang baik kepada anak tersebut. Lambat laun, anak tersebut akan memandang Anda sebagai seseorang yang perlu dikenali, dihormati dan mungkin pada akhirnya dicintai. (ab/pt)

 

Permohonan Ijin Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil

A. DASAR HUKUM

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS.

B. PERSYARATAN :

Persyaratan Teknis :

  1. PNS hanya dapat melakukan perceraian apabila ada alasan-alasan yang sah, yaitu salah satu atau lebih alasan :
    1. Salah satu pihak berbuat zinah
    2. Salah satu pihak menjadi pemabok, pemadat, atau penjudi yang sukar disembuhkan
    3. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuan/ kemauannya
    4. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat secara terus menerus setelah perkawinan
    5. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiyaan yang membahayakan pihak lain
    6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga

Persyaratan Administrasi :

  1. Surat pengantar dari Pimpinan unit kerja
  2. Surat Nikah
  3. Surat permintaan izin untuk melakukan perceraian
  4. BAP dari Pimpinan Unit Kerja yang berisi kepenasehatan
  5. BAP dari BP4 Kantor Urusan Agama setempat
  6. Surat pernyataan bersedia menyerahkan bagian gaji untuk bekas isteri dan anak-anaknya
  7. Surat Jaminan berlaku adil
  8. Kelengkapan lain (Alasan salah satu berbuat zinah):
    1. Keputusan pengadilan
    2. Laporan perbuatan zinah
    3. Surat menyaksikan perbuatan zinah

C. PROSES PELAYANAN :

  1. Surat permintaan izin cerai disampaikan kepada pejabat yang berwenang melalui saluran hirarki/berjenjang
  2. Setiap atasan yang menerima surat permintaan izin cerai wajib menyampaikannya kepada Pejabat atasannya paling lambat 3 (tiga) bulan
  3. Sebelum mengambil keputusan, setiap pejabat berusaha lebih dahulu merukunkan kembali suami isteri tersebut dengan cara memanggil mereka
  4. Pejabat dapat meminta keterangan dari pihak lain yang dipandang mengetahui keadaan suami isteri yang bersangkutan

Hukum Mati Para Koruptor Sebuah Solusi Jitu

Banyak pokok bahasan dilakukan orang-orang yang merasa pintar di negeri ini berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi, tapi dalam faktanya korupsi semakin menjadi-jadi menggurita dimana-mana. Tidak cukup kita berpolemik bicara tentang pemberian “Remisi Bagi Koruptor” karena itu bukan solusi, apalagi “remisi” telah pula jadi kontra versial di kalangan masyarakat, ada yang setuju ada yang tidak. Soal penghapusan “remisi” bagi para koruptor jelas kita tidak bisa dilakukan karena jelas melangkahi kehendak undang-undang yang mengaturnya, mulai dari UU No.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, pasal 14 dan 15 hukum pidana materill kita (KUHP) Jo PP No.32 tahun 1999 tentang syarat dan tata cara warga binaan, dan theory tentang “penghukuman tentang pemidanaan yang jelas bukan sebagai balas dendam”. Oleh karenanya karena korupsi berkaitan dengan budaya mentalitas kita sebagai suatu bangsa, dimana nilai budaya “korupsi” cenderung untuk abadi, sehingga masalah korupsi dari waktu kewaktu hanya jadi polemik tak berkesudahan di negeri ini, ibarat “anjing menggonggong namun Kapilah tetap berlalu”.

Hampir setiap tahun kita menyaksikan Sejumlah aktivis menggelar unjuk rasa memperingati hari anti korupsi internasional, di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, dan di kota-kota lain di negeri ini. Hari anti korupsi yang jatuh tepat pada 9 Desember diperingati berbagai elemen masyarakat dengan menggelar aksi untuk menyerukan Indonesia bersih dari segala praktik korupsi, tapi upaya ini tetap sia-sia dan seruan serta sloganitas pemberantasan korupsi telah jadi retorika para Politikus dan Penguasa di negeri ini. Adapun UU No 31/1999, yang diperbarui dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sekalipun ada disinggung tentang “hukuman mati” tapi justru mempersempit mengatur hukuman mati hanya dapat dijatuhkan antara lain, ditujukan pada pelaku korupsi saat negara sedang dilanda krisis, saat bencana alam, atau dalam keadaan tertentu, sehingga terlalu banyak persyaratan sehingga kesannya mempersulit dijatuhkannya hukuman mati bagi para pelaku tindak pidana korupsi. Perhatikan dan cermati bahwa sampai saat ini dari semua persidangan kasus korupsi di negeri ini belum satupun kita dengar ada keberanian dari majelis hakim untuk menerapkan dan menjatuhkan hukuman mati kepada Terdakwa kasus korupsi yang telah terbukti bersalah menilap uang negara yang besarnya milyard-an bahkan trilyunan rupiah.

Di masa lampau, berbagai pihak memang banyak pendukung hukuman yang lebih berat atas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dengan mengacu kepada negara China, dan memuji berbagai usaha negeri ini dalam menumpas penyakit sosial tersebut. Salah satu cara yang diusulkan para pendukung tersebut adalah dijatuhkannya sanksi hukuman yang lebih berat dengan memperkenalkan hukuman mati bagi narapidana korupsi di Indonesia. Mereka menganjurkan untuk belajar dari China dan dari kebijakannya dalam memberantas korupsi. Namun jika kita perhatikan Republik China, ternyata China tidak dapat dan tidak patut menjadi contoh bagi sebuah negara yang demokratis seperti Indonesia, karena ini kendalanya. Sehingga masalah demokrasi yang ada di tangan para Politisi dan Partai Politik terkesan sebagai perintang utama dijatuhkannya hukuman mati di negeri ini. Oleh karenanya Para politisi dan partai politik perlu mendapat sorotan tersendiri bagi kita. Mereka secara implisit tidak rela ada hukuman mati bagi para koruptor di Indonesia. Dan ini terbukti seperti apa kata komisi III DPR-RI, dimana Ketua Komisi III Benny K Harman, telah mengatakan bahwa, hukuman mati tidak pernah efektif memberantas tindak korupsi di negara mana pun termasuk China. Benny juga mengatakan hukuman mati melanggar hak asasi manusia. “Hukuman mati kami tolak, selain (karena) melanggar hak asasi manusia, juga dan secara empiris tidak berhasil tidak efektif untuk menahan meluasnya korupsi. Tapi itu (revisi UU) kan belum selesai. Hukuman mati di negara mana pun tidak pernah efektif untuk menangkal kejahatan termasuk korupsi di China juga sama“, tutur Benny saat ditemui usai rapat Paripurna. (JAKARTA, RIMANEWS, 29/3/2011). Dan ini bertentangan dengan apa kata Ketua MK, Di Surabaya, Jawa Timur, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengakui, korupsi di negeri ini sudah parah dan merajalela. Karena itu penulis katakan, Indonesia perlu belajar dari Latvia dan China yang berani melakukan perombakan besar untuk menumpas korupsi di negaranya. Masalah pemberantasan korupsi harus bermuara pada efek jera bagi para pelakunya, dan efek jera itu hanya akan bisa didapat jika para koruptor yang terbukti bersalah “harus dihukum mati”. Tapi tentu saja harus selektif  hukuman mati harus dijatuhkan bagi para koruptor yang telah terbukti menilep uang negara di atas 1 Milyard.

Tindak pidana korupsi sebagai extra ordinary crime dimana bagi negara miskin seperti Indonesia hukuman mati adalah solusi jitu untuk segera diberlakukan, dan untuk itu perlu ada kemauan politik sangat kuat dari para politisi dan pemerintah atau diperlukan good will untuk bisa diberlakukannya hukuman mati ini.

Tanpa ada good will dari para politisi dan pemerintah mustahil ada hukuman mati bagi para koruptor di negeri ini, dan jangan pernah bermimpi kita dapat mengurangi tindak pidana korupsi apa lagi memberantasnya. Buktikan jika ada solusi lain…!!!

Oleh : Drs. M. Sofyan Lubis, SH.

Advokasi VS Kebijakan Publik

Secara awam banyak difahami oleh masyarakat pengertian ”advokasi” pasti berkaitan dengan tugasnya soseorang yang berprofesi sebagai advokat atau Penasihat Hukum di Pengadilan atau dalam konteks ini advokat diartikan adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum dalam rangka melakukan pembelaan, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan undang-undang advokat (vide UU No.18 tahun 2003 tentang Advokat). Sehingga tidak heran banyak para advokat juga mengartikan ”advokasi” adalah sebagai bagian tugas dalam upaya pembelaan hukum terhadap hak-hak hukum kliennya.  Begitu juga pengertian advokasi yang ada dibeberapa Lembaga Bantuan Hukum (LBH), semula program advokasi di LBH-LBH yang ada dititik-beratkan pada program pembelaan hukum yang dilakukan di pengadilan saja sebagai salah satu ciri khasnya, sehingga ”advokasi” dimaknai sebagai kegiatan pembelaan di ruang-ruang pengadilan dalam rangka mencari keadilan serta menegakkan hak-hak hukum mereka yang dibela oleh pihak Lembaga Bantuan Hukum atau lembaga yang sejenis. Adapun bidang yang menangani advokasi di LBH bersangkutan biasanya disebut dengan bidang Litigasi . Di Lembaga Bantuan Hukum atau LBH dulunya bidang advokasi merupakan bidang Litigasi yang lebih khusus diartikan sebagai upaya bantuan hukum yang diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat kurang mampu secara ekonomi, dan biasanya perkara yang ditangani adalah perkara struktural.

Di dalam perkembangannya advokasi tidak lagi difahami sebagai suatu upaya pembelaan hukum diruang pengadilan dalam rangka mencari keadilan, ruang pengadilan tidak lagi satu-satunya tempat untuk mewujudkan keadilan apalagi telah menjadi rahasia umum pengadilan yang koruptif justru menjadi tempat dan sumber ketidakadilan itu sendiri (political stage).<br><br> Di samping itu berangkat dari fakta-fakta sosial tentang banyak terjadi ketimpangan sosial, ketidak-adilan sosial, keterbelakangan sosial di tengah masyarakat Indonesia, dimana diketahui akar masalah terjadinya ketidakadilan, keterbelakangan dan ketimpangan sosial itu selalu bersumber dari beberapa indikator yang antara lain ; terhambatnya mekanisme keputusan politik atau kebijakan public service yang kurang memihak kepada rakyat banyak, kurang dihormatinya hak-hak asasi manusia, hak sipil-politik, hak ekonomi, hak sosial dan budaya, partisipasi politik rakyat banyak tidak terakomodir dengan baik dalam pengambilan keputusan politik dan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga kesemua itu pada gilirannya membuat kehidupan berbangsa dan bernegara tidak demokratis. Atas dasar ini ”advokasi” memiliki dimensi pengertian yang sangat luas, bahkan pengertiannya sangat tergantung pada situasi secara kontekstual. Dalam konteks ini ”advokasi” dapat diartikan: sebagai segala upaya legal yang sistematis dan terorganisir baik itu dalam mempengaruhi dan mensosialisasikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi rakyat banyak sehingga terjadi perubahan prilaku dan kemampuan masyarakat luas untuk melakukan dan memperjuangkan seluruh hak-haknya secara mandiri, maupun segala upaya yang ditujukan kepada pemerintah dan/atau kepada semua -pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak agar mengubah kebijakan, system dan program yang ada demi terciptanya keadilan sosial yang demokratis.

Berangkat dari pengertian ”advokasi” ini, advokasi bukan lagi sekedar pembelaan hukum yang dilakukan di ruang pengadilan untuk mewujudkan keadilan, advokasi merupakan suatu pembelaan terhadap hak-hak asasi manusia, hak sipil-politik, hak ekonomi, sosial dan budaya yang secara konprehensif diperjuangkan melalui akar masalahnya. Karena advokasi disini dilakukan secara sistematis dan terorganisir, maka advokasi merupakan kerja dari koalisi dari sumber daya manusia yang kapabel, mempunyai rumusan tujuan dan sasaran yang jelas, harus mempunyai data dan informasi baik kuantitatif maupun kualitatif dari semua aspek sasaran terkait, mempunyai paket-paket pesan yang jelas untuk disampaikan kepada sasaran dan seluruh pihak terkait, melakukan evaluasi agar ditemukan cara yang lebih tepat dalam mencapai target advokasI. Bahwa yang tidak kalah pentingnya upaya advokasi harus memiliki dana yang cukup untuk mengoperasionalkan program-programnya, oleh karenanya advokasi harus mempunyai konsep yang menyangkut legitimasi, dan ini merujuk terhadap apa dan siapa yang diwakili supaya didengar oleh masyarakat dan pemerintah ; mempunyai kredibilitas dan ini merujuk pada hubungan baik antara organisasi dengan konstituennya agar advokasi dapat dipercaya ; mempunyai kekuasaan sebagai modal untuk bargaining dan ini biasanya merujuk pada jumlah orang yang dapat dimotivasi ; dan memiliki akuntabilitas, yaitu bentuk pertanggungjawaban kepada publik khususnya yang diwakilinya karena pertanggungjawaban itu memang merupakan hak mereka ; Advokasi sangat diperlukan dalam masyarakat kita agar nilai-nilai pembangunan dapat diserap dengan baik sehingga terbangun manusia Indonesia seutuhnya yang bermartabat yang mengerti hak dan kewajibannya sebagai warganegara dalam iklim yang sehat dan demokratis. Disini, peran dari LBH-LBH dan/atau LSM-LSM  atau NGO sangatlah besar, karena merekalah yang begitu concern dalam melakukan upaya advokasi terhadap kebijakan publik yang menimbulkan ketimpangan sosial.

Oleh : Drs. M. Sofyan Lubis, SH.